Ngopi
Kopi, dalam beberapa tahun belakang, mendapat pamor yang luar biasa besar. Banyak orang kini berbondong-bondong menjadi penikmat, pembuat, ahli, pemerhati, penulis kopi, dan sebagainya. Apalagi semenjak cerita pendek karya Dewi Lestari dibuatkan jadi film, popularitas kopi di banyak kalangan semakin menanjak. Tentu ini sesuatu yang bagus.
Bagi saya, kopi, tentu juga punya tempat tersendiri. Saya sendiri sebenarnya bukan pecinta kopi yang sampai pada tingkatan coffee addict. Sekali-kali saya ngopi di rumah, biasanya untuk menghilangkan rasa kantuk atau sakit kepala ketika membaca atau menulis. Tidak sering. Sekali-sekali juga saya datang ke kedai kopi untuk bertemu dengan teman atau kebetulan sedang luang. Pengetahuan saya tentang jenis kopi juga tidak banyak. Saya akan minum kopi apa pun yang menjadi andalan kawan-kawan penjual kopi di kedai.
Menemukan
Ngopi di luar rumah, bagi saya, lebih banyak berfungsi sebagai waktu untuk bersosialisasi, dengan teman, dengan pemilik kedai, atau dengan orang-orang (yang baru saya kenal) karena ngopi di tempat yang sama. Di sana saya mendapat banyak informasi, bisa kenal banyak orang, dan juga tentu saja bisa tertawa bebas.
Kedai kopi selalu menyediakan banyak pengalaman bagi saya. Di sana saya kadang mendapat teman diskusi, teman bergosip, teman berdebat, atau kadang juga teman yang merasa senasib sepenanggungan. Biasalah, di kedai kopi, umumnya orang bisa bebas bercerita tentang apa pun, kepada siapa pun, tanpa harus takut atau canggung.
Kadang, ada seseorang atau beberapa orang yang sedang bergosip ihwal kondisi terkini perpolitikan di kota, provinsi, atau bahkan negara. Yang menarik, juga kadang orang-orang yang saya temui ini kadang berasal dari lingkaran dalam kekuasaan. Tentu saja saya sebagai pendengar jadi tahu sedikit gosip tentang peta perpolitikan atau hal-hal lain. Perkara benar atau tidaknya informasi yang saya dengar, tidak saya pikirkan lebih jauh.
Kadang, saya juga bertemu dengan orang-orang yang seru ngobrol tentang dunia seni atau kondisi kesenian di kota tempat saya tinggal. Bertemu dengan pelaku seni, kadang, buat saya adalah kemewahan. Di dalam proses ngobrol itu, kadang saya mengimajinasikan bagaimana para seniman atau pemerhati seni ini berpikir. Saya sering terkagum-kagum dengan cara mereka melihat dunia sekitar, melihat kehidupan.
Kadang, saya juga bertemu dengan para supporter sepak bola. Di Bandung, biasanya ngobrol tentang klub kebanggan, Persib, menjadi sebuah obrolan yang seru. Buat saya yang awam di dunia sepak bola, kadang saya berpikir bahwa dukungan terhadap sebuah klub sepak bola adalah aktivitas sampingan, untuk melepas penat. Akan tetapi, kadang saya lihat dan dengar, perkara mendukung sebuah klub bagi kalangan supporter adalah perkara hidup dan mati. Kok bisa begitu? Ada banyak orang yang mendedikasikan hidupnya untuk mendukung dan menghabiskan banyak waktu di dalam hidupnya untuk klub kebanggaan. Pernah saya bertemu dengan seorang supporter yang bekerja di luar kota dan rela pulang ke Bandung tiap Persib main kandang dan tidak jarang juga ikut mendukung ketika Persib bermain di luar kota atau luar pulau. Buat saya, dedikasi semacam ini adalah dedikasi yang luar biasa besar. Selain tentu akan menguras ongkos, tentu saja menguras tenaga dan pikiran. Buat mereka, ini menjadi semacam totalitas dukungan untuk klub kebanggan, lebih jauh ini dikatakan sebagai “hidup’ itu sendiri. Luar biasa.
Kadang, saya juga bertemu dengan beberapa orang yang tidak henti-hentinya membicarakan filsafat, sastra, film, dan berbagai fenomena budaya yang hadir di sekitar. Diskusi ke diskusi dilakukan dari kedai ke kedai, dari kafe ke kafe, dari ruang ke ruang. Dari pertemuan-pertemuan dengan orang-orang ini tentu saya mengambil banyak manfaat. Perbincangan seperti ini juga muncul dari obrolan-obrolan santai sampai diskusi yang dirancang secara khusus. Kadang saya berpikir, mungkin dari diskusi-diskusi semacam ini kelak akan lahir banyak pemikir hebat. Tentu kita tahu bagaimana para pemikir besar di Perancis atau Inggris lahir dari obrolan-obrolan di kafe-kafe. Bahkan tidak hanya para pemikir, kelak mungkin juga akan muncul aliran-aliran pemikiran yang khas dari diskusi-diskusi ini.
Kadang, ketika saya melakukan penelitian di luar kota atau di luar pulau, kedai kopi selalu menjadi tempat terbaik untuk mengorek informasi mengenai apa yang akan saya teliti. Sempat, suatu saat saya berangkat untuk melakukan penelitian dengan seorang teman di Pulau Bangka, pengetahuan kami tentang kondisi di Sungailiat relatif masih minim. Kami mendengar ada kedai kopi legendaris yang ada di kota itu. Di sana lalu kami mendapat banyak informasi mengenai keadaan atau budaya sekitar dari obrolan-obrolan.
Kadang, saya bertemu dengan orang-orang lantas berusaha membuat kegiatan atau peluang untuk berkarya. Mewujudkan gagasan-gagasan yang kami temukan di dalam obrolan sembari ngopi kadang memberikan daya hidup baru bagi kami.
Kadang juga saya menyengajakan diri pergi ke kedai kopi untuk menulis atau membaca. Di sana kadang muncul ide-ide yang lalu saya wujudkan menjadi sebuah tulisan. Di sana saya berusaha membangun sebuah situasi yang membuat saya bisa produktif berpikir dan menulis.
Tentu, ada banyak pengalaman lain yang saya dapatkan dari pengalaman ngopi. Di sana saya bertemu dengan banyak orang dengan segala kegelisahannya, bertemu banyak orang dengan segala keahliannya, bertemu banyak orang dengan segala latar belakangnya. Buat saya ngopi selalu menjadi “wilayah antara” yang menghubungkan saya dengan dunia di luar saya yang belum saya ketahui. Begitulah!***
