Melihat Kerumunan

Kerumunan

Sabtu kemarin, 26 Agustus 2017, saya bersama istri dan anak-anak datang ke Karnaval Budaya Pesona Parahyangan. Saya memilih tempat yang strategis, di depan sebuah mal di Jalan Merdeka. Tentu supaya praktis, saya bisa melakukan hal lain di sana: makan, ke toilet, salat, dll. Sebagai warga kota, tentu saja saya dan keluarga tidak mau melewatkan pergelaran yang jarang diselenggarakan ini.

Orang tumpah ruah dari seluruh pelosok kota. Semua berusaha untuk berderet di paling depan supaya bisa melihat karnaval dengan jelas. Tidak sedikit pula yang mengorbankan fasilitas publik—seperti menaiki pot bunga, pagar, dan sebagainya—demi melihat dengan jelas karnaval ini. Walaupun agak di belakang, saya memilih pelataran mal di jalan merdeka tadi, supaya anak-anak saya bisa melihat karnaval dan tidak terlalu berdesakan.

Ada yang menarik di dalam banyak pergelaran semacam ini. Saya perhatikan ada banyak orang menonton bukan hanya untuk melihat, tetapi ingin mengabadikan momen. Sebagian orang, yang memang berporfesi sebagai fotografer dan videografer, tentu saja sibuk mengabadikan momen-momen terbaik. Akan tetapi, ada banyak awam juga yang sibuk mengabadikan momen ini.

Teknologi

Perkembangan teknologi mengubah cara orang melihat dunia. Orang memiliki gawai dengan kemampuan mengabadikan momen melalui foto atau video dengan kualitas yang bagus; mereka juga memiliki media sosial sebagai galeri untuk menampilkan apa yang mereka ambil dari realitas keseharian.

Perkara melihat, kini, tidak hanya cukup hanya di dalam pandangan mata. Maka orang mengabadikan momen apa pun di dalam kehidupannya dan mengunggahnya ke dalam media sosial. Orang baru akan merasa bahwa ia hadir di dalam sebuah pergelaran atau acara ketika ia mengunggah video atau foto-foto yang ia ambil ke media sosial. Kadang saya melihat, kenikmatan hadir di sebuah acara, kini, tidak lagi terletak pada bagaimana orang menikmati suasana di acara tersebut, tetapi ketika orang berhasil mengabadikan dan membagikannya di media sosial.

Lalu beramai-ramai orang mengabadikan dirinya dengan cara swafoto, mengambil momen melalui foto dan video, dan sibuk mengunggahnya ke media sosial. Eksistensi seseorang, kini, adalah ketika ia menghadirkan representasi realitas yang ia alami ke dalam media sosial di internet. Foto dan video di media sosial menjadi penanda akan eksistensi dan kehidupan kekinian orang-orang.

Saya tiba-tiba menjadi ingat sebuah tulisan Barthes tentang penulis sebagai turis palsu. Di dalam tulisan itu diceritakan bagaimana banyak penulis yang pergi berlibur ketika orang-orang berlibur. Akan tetapi, ketika semua orang menikmati liburannya dengan bersenang-senang, menikmati setiap momen, penulis malah bekerja. Ia mengamati keadaan, mencatat, dan menuliskannya. Kebanyakan dari mereka tidak menikmati liburannya.

Di dalam kondisi yang berbeda, saya melihat fenomena itu juga hampir terjadi kepada banyak orang dewasa ini. Banyak orang pergi menonton konser, pergi ke karnaval, pergi ke acara-acara reuni, tetapi mereka tidak menikmati acara-acara tersebut. Mereka sibuk mengabadikan momen untuk lantai dibagikan di media sosial. Kehadiran diri mereka di tengah-tengah kerumunan kini, seakan-akan, akan menjadi sia-sia jika mereka tidak mengabadikannya di dalam gawai yang mereka bawa.

Sering saya nyinyir. Ketika menonton konser yang diselenggarakan di ruangan gelap atau malam hari, saya juga sering terganggu dengan cahaya layar telepon genggam, tablet, atau kamera yang diangkat tinggi-tinggi ke atas. Saya sering berpikir, jika memang berniat menonton, kenapa orang tidak menikmati konsernya saja? Jangan sibuk-sibuk mengabadikan momen dengan merekam atau mengambil gambar sepanjang konser. Jika nanti ingin melihat di internet, baru tinggal buka saja Youtube atau media sosial, dan cari video atau gambar dengan kualitas yang baik.

Perubahan

Mungkin di dalam hal ini, saya termasuk orang yang tidak mau berubah. Ketika orang mendedikasikan waktu menonton konser, karnaval, atau acara lainnya untuk merekam dan mengabadikan gambar, saya hanya ingin menikmati acara-acara terserbut.

Teknologi memang membawa perubahan yang sangat besar di dalam setiap aspek kehidupan kita. Demikian juga di dalam cara kita memandang peristiwa dan memaknai eksistensi diri kita. Teknologi menjadi semacam medium yang lantas kita serahi kedirian kita kepadanya. Di sana kita menyimpan, menyulam, dan menandai diri kita. Jadi ketika kita hadir di dalam sebuah acara, maka kita berlomba-lomba untuk merekam dan merepresentasikannya ke media sosial yang kita miliki. Aku merekam maka aku ada. Begitulah kira-kira.

Sementara itu, saya masih saja menjadi penonton yang berusaha untuk menikmati kehadiran saya di tengah-tengah acara, menikmati suasana, menikmati aura, dan sebagainya.***

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started